SejarahTalempong. Alat musik Talempong berasal dari daerah Minangkabau provinsi Sumatera Barat. Talempong diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Minangkabau dan telah tercatat sejak abad ke-14. Namun, cerita pastinya mengenai awal mula diciptakannya tidak diketahui sedangkan cerita rakyat yang beredar mengenai asal usul alat
7Alat Musik Tradisional Sulawesi Tenggara Lengkap May 15th, 2019 - Gambar Alat Musik Tradisional Sulawesi Tenggara Baasi Seperangkat alat musik bambu berjumlah 10 buah Dibuat dari bambu dan rotan Alat ini digunakan sebagai pengiring lagu daerah dan nusantara di waktu pertunjukan 5 Nama Alat Musik Tradisional Bali Lengkap Gambar
Pianika Terompet. Alat musik melodis merupakan alat yang digunakan untuk menciptakan satu lagu yang akan mengeluarkan bunyi sebagai mengiringinya. Alat musik melodis ialah alat musik yang sapat menghasilkan sebuah nada serta notasi. Fungsi dari alat musik melodis ini adalah sebagai pengatur nada ketika seseorang sedang melantunkan sebuah nyanyian.
Rapai Alat musik tradisional Rapai merupakan alat musik yang dibunyikan dengan cara dipukul. Menurut Z.H Idris, alat musik Rapai ini berasal dari Bahdad (irak), dan dibawa ke Aceh oleh seorang penyiar agama Islam bernama Syeh Rapi. Dalam pertunjukannya, alat musik rapai ini dimainkan oleh 8 sampai 12 orang pemain yang disebut awak rapai.
Alatmusik tradisional sasando berasal dari daerah ~ 8152018 Sasando adalah alat musik tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur NTT. Alat musik yang satu ini dibuat dari bambu dan daun lontar. Your Alat musik tradisional sasando berasal dari daerah image are ready in this website.
Alatmusik sasando ini adalah alat musik sederhana yang berasal dari Pulau Rote, biasa dimainkan dengan cara di petik. Namun karena pengaruh dari budaya asing saat ini lebih banyak kaum atau generasi muda yang lebih memilih memainkan gitar ketimbang sasando tersebut. 2.6 Cara Melestarikan Eksistensi Budaya Nasional di Era Globalisasi
. Alat Musik Sasando – Dalam kesenian musik, terdapat berbagai jenis alat musik, baik alat musik tradisional maupun alat musik modern. Salah satu alat musik tradisional yang datangnya dari Nusa Tenggara Timur, Indonesia berupa alat musik Sasando. Alat musik tradisional Sasando ini sangat populer di kancah budayawan nasional bahkan internasional. Hal ini didukung dengan sejarahnya yang unik, fungsinya yang cukup beragam, bentuk, jenis, dan cara memainkannya pun terbilang khas dan membutuhkan keterampilan. Nah, semua penjelasan mengenai alat musik Sasando akan kita simak bersama-sama pada artikel di bawah ini. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk scroll ke bawah dan simak penjelasannya sampai tuntas. Alat Musik Sasando Alat Musik Sasando Alat musik tradisional Nusa Tenggara Timur yang pertama diberi nama Sasando. Alat musik jenis ini tergolong ke dalam alat musik petik. Alat musik ini merupakan alat musik khas Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pulau Rote. Dalam bahasa Rote, alat musik jenis ini dikenal dengan sebutan Sasandu. Sementara dalam bahasa Kupang dikenal sebagai alat musik Sasando. Alat musik jenis ini adalah alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara memetik dengan jari-jemari tangan. Sesuai tradisi masyarakat NTT, Sasando kerap dimainkan untuk mengiringi lagu atau tarian tradisional. Sejak tahun 1960-an, melalui prakarsa Edu Pah, Sasando mengalami modifikasi dari alat musik tradisional menjadi alat musik elektrik. Edu Pah merupakan seorang pakar Sasando di Nusa Tenggara Timur. Sejarah Alat Musik Sasando Awal Penciptaan Sasando Alat musik Sasando mengalami perjalanan sejarah yang cukup unik. Perjalanan sejarah tersebut dapat dibagi menjadi 3 bagian kisah, yakni awal mula alat musik Sasando dengan versi pertama dan versi kedua, kemudian sejarah perkembangan Sasando Biola menjadi Sasando elektrik. Dimana semua kisah sejarah tersebut dapat disimak sebagai berikut Awal Mula Alat Musik Sasando Versi Pertama Terdapat dua versi cerita rakyat. Versi pertama menceritakan bahwa awal mula Sasando ditemukan oleh seorang anak muda yang bernama Sangguana. Ia terdampar di Pulau Ndana. Kemudian ia dibawa ke hadapan raja Takalar yang berdiam di istana Nusaklain. Kebiasaan dari istana tersebut adalah sering diadakan permainan kebak atau kebalai pada malam hari. Permainan ini berupa tarian massal muda-mudi yang dilakukan dengan cara bergandengan tangan membentuk sebuah lingkaran dengan seorang yang berperan sebagai mahamelo atau seorang pemimpin syair yang berada di tengah lingkaran muda-mudi tersebut. Dalam permainan ini Sangguana yang menjadi pusat perhatian karena ia mempunyai bakat seni, tanpa disadari putri raja jatuh hati kepada Sangguana. Kemudian Sangguana bertemu dengan putri raja, Sangguana diminta untuk menciptakan alat musik yang belum pernah ada sebelumnya. Apabila ia berhasil, maka ia berhak mempersunting putri raja. Kemudian, di suatu malam Sangguana bermimpi sedang memainkan satu alat musik yang indah bentuk dan suaranya. Dan ternyata, Sangguana berhasil menciptakan alat musik ini diberi nama Sandu yang memiliki makna yang berani bergetar. Kemudian, sang putri raja memberikan nama alat itu sesuai dengan bahasanya sya, yaitu hitu atau tujuh. Hal ini didasarkan pada jumlah dawai yang terdiri dari 7 dawai yang dapat dimainkan dengan lagu yang dimainkan dinamai depo hitu yang diartikan sebagai dimainkan ketujuh dawai bergetar. Karena dawai tersebut dibuat dari akar pohon beringin yang kemudian diganti dengan usus hewan yang telah dikeringkan. Awal Mula Alat Musik Sasando Versi Kedua Selain cerita versi pertama di atas, terdapat pula cerita versi kedua yang menceritakan tentang kisah dua orang sahabat yaitu Lunggi Lain dan Balok Sama Sina. Kedua sahabat ini kesehariannya bekerja sebagai gembala domba dan penyadap tuak. Suatu ketika mereka sedang membuat haik wadah penampung air tuak yang terbuat dari daun lontar di antara jari-jari dari daun lontar terdapat semacam benang bahasa rote fifik tanpa disengaja fifik atau benang itu dikencangkan kemudian dipetik menimbulkan bunyi yang berbeda, namun benang atau fifik ini mudah putus, dan muncullah ide untuk membuat alat musik Sasando. Dengan adanya kejadian ini mendorong Lunggi Lain dan Balok Sama Sina untuk mengembangkannya, mereka ingin dengan adanya alat musik yang dapat menirukan nada-nada yang ada pada gong. Akhirnya mereka berhasil menciptakan bunyi-bunyian atau nada-nada yang ada pada gong dengan mencukil tulang-tulang dari lembaran daun lontar yang diganjal dengan batang kayu. Kemudian mereka mengalami kelemahan karena nada-nada yang dihasilkan selalu berubah-ubah dan suaranya terdengar sangat kecil. Sehingga lembaran daun lontar diganti dengan bambu yaitu dengan cara mencungkil kulit bambu sebanyak jumlah nada yang ada pada gong yang kemudian diganjal dengan batangan kayu. Ide ini terus berlanjut, kemudian dawai-dawainya diganti dari serat pelepah daun lontar dan ruang resonansinya dibuat dari haik. Perkembangan Sasando Tradisional ke Sasando Elektrik Awal pembuatan Sasando elektrik adalah dengan adanya kerusakan Sasando Biola yang terbuat dari peti kayu milik ibu mertua dari Arnoldus Edon pada 1958. Kemudian ia memperbaiki dan menjadi baik. Dari situlah asal muasalnya Arnold Edon mendapatkan ide dan mulai bereksperimen membuat Sasando elektrik. Edon berpikir bahwa kalau memetik Sasando dengan posisi Sasandonya tertutup dengan daun lontar yang lebar dan bunyinya hanya bisa didengar oleh segelintir orang saja dan petikan serta kelentikan jari-jemari tidak dapat dinikmati atau dilihat oleh orang lain karena tertutup dan terhalangi daun lontar. Alangkah indahnya jika Sasando itu dipetik dan didengar dengan suara yang besar, dapat dinikmati oleh banyak orang dari kejauhan dan petikan jari-jemari yang lemah gemulai dapat dilihat keindahannya, karena Sasando dipetik dengan menggunakan 7 sampai 8 jari. Pada tahun 1958, Arnold Edon menciptakan Sasando elektrik, eksperimen demi eksperimen ia lakukan untuk mendapatkan bunyi yang sempurna dan sama dengan bunyi asli dari Sasando Biola tradisional. Tahun 1959, Arnoldus Edon pergi ke Nusa Tenggara Barat sebagai seorang Kepala Sekolah di Mataram. Dengan bekal ilmu pengetahuan sebagai seorang guru IPA/Fisika, maka pada tahun 1960 Sasando Elektrik ini berhasil dirampungkan dan mendapatkan bunyi yang sempurna sama dengan suara Sasando aslinya. Bentuk sasando elektrik ini dibuat dengan sebanyak 30 dawai. Inilah awalnya Arnoldus Edon membuat sasando listrik yang hasilnya pertamanya langsung dibawa ke Jakarta. Jadi, alat musik Sasando elektrik di buat pertama kali pada waktu Arnoldus Edon masih berada di Mataram. Tahun 1972, Arnoldus Edon bersama keluarga kembali ke Kupang dan di Kota Kupang Sasando elektrik mulai dikenal dan berkembang. dari berita ke berita tentang pembuatan sasando elektrik ini tersiar sehingga banyak teman terutama pemain sasando mulai berdatangan untuk meminta dibuatkan sasando elektrik kepada Arnold Edon. Perlahan-lahan banyak pembeli yang mulai berdatangan dari Indonesia bahkan sampai luar negeri seperti Belanda, Australia, Amerika, Canada, dan Jepang. Alat musik Sasando elektrik mulai mendapatkan perhatian dan pihak pemerintahan daerah NTT, terlebih lagi pada masa kepemimpinan Gubernur NTT dr. Ben Mboi pada tahun 1978-1988. Fungsi Alat Musik Sasando Fungsi Alat Musik Sasando Sasando memiliki suara bervariasi dan khas. Alat musik ini biasa dimainkan untuk musik tradisional, pop, dan genre musik lainnya kecuali musik elektrik. Selain itu, alat musik Sasando juga memiliki beragam kegunaan lainnya. Adapun fungsi alat musik Sasando adalah sebagai berikut Budaya Kebanggaan Indonesia Alat musik Sasando merupakan alat musik tradisional khas Nusa Tenggara Timur yang tidak hanya dikenal sebagai budaya lokal, melainkan juga sudah dikenal sampai mancanegara seperti gitar dan harpa. Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa dengan memainkan Sasando ini kita turut melestarikan budaya bangsa kita sendiri. Media Terapi Menurut sejarah yang beredar bahwa alat musik Sasando dahulu digunakan sebagai alat musik terapi penyembuhan kusta yang banyak menyebar dan diidap masyarakat di Pulau Rote. Media Hiburan Sebagai instrumen kesenian musik, maka tidak jauh-jauh kegunaan alat musik Sasando juga banyak dimainkan sebagai media hiburan masyarakat. Bahkan alat musik tradisional NTT ini juga kerap dijadikan sebagai media wisata bagi masyarakat lokal maupun pendatang. Pengiring Upacara Adat Sebagai alat musik tradisional, alat musik Sasando kerap dimainkan sebagai pengiring upacara adat. Biasanya, instrumen petik ini dimainkan untuk mengiringi upacara adat penyambutan tamu, upacara adat pernikahan, dan acara penting kedaerahan lainnya. Fungsi Finansial Selain bernilai seni yang khas dan unik, alat musik Sasando juga bernilai bisnis. Kenapa tidak? Alat musik yang sudah populer bahkan sampai ke mancanegara ini kerap dijadikan sebagai salah satu media untuk menambah pundi-pundi dan devisa negara. Para pengrajin dapat memproduksi dan menjual Sasando ke pasar. Sementara para pemain Sasando dapat mengajarkan kemampuan bagaimana memainkan alat musik tersebut, bahkan juga dapat menampilkan musik Sasando di berbagai acara. Bentuk Alat Musik Sasando Alat Musik Sasando Alat musik Sasando memiliki bentuk yang cukup unik, yakni terdapat tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus. Dan di bagian bawah dan atasnya terdapat cara memasang dan mengencangkan dawai. Sementara di bagian tengah bambu Sasando, terdapat penyangga atau senda untuk merentangkan dawai. Senda ini digunakan untuk mengatur tangga nada. Tangga dan nada ini akan membedakan petikan dawai satu dengan dawai yang lainnya. Sasando juga dilengkapi dengan wadah yang terbuat dari anyaman daun lontar atau haik. Kegunaan wadah ini adalah untuk menghasilkan resonansi getaran yang dapat menimbulkan suara yang dapat didengar. Macam Macam Alat Musik Sasando Alat musik Sasando dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yakni alat musik Sasando Gong, Sasando Biola, dan Sasando Elektrik. Ketiga jenis instrumen ini akan kita bahas bersama-sama di bawah ini. No Alat Musik Sasando 1 Alat Musik Sasando Gong 2 Alat Musik Sasando Biola 3 Alat Musik Sasando Elektrik Electric Sasando 1. Alat Musik Sasando Gong Alat Musik Sasando Gong Jenis pertama dari alat musik Sasando adalah alat musik Sasando Gong. Alat musik jenis ini biasa dimainkan dengan irama gong dan dinyanyikan dalam bentuk syair untuk mengiringi tari, menghibur keluarga yang berduka dan untuk mengadakan pesta. Alat musik Sasando Gong menghasilkan nada pentatonik. Alat musik jenis ini memiliki tujuh dawai yang kemudian berkembang menjadi sebelas dawai. Sejak abad ke-7, Sasando Gong lebih banyak berkembang di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. 2. Alat Musik Sasando Biola Alat Musik Sasando Alat musik Sasando jenis kedua adalah Sasando Biola. Sasando jenis kedua ini memakai putaran dawai senar atau sekrup dawai yang terbuat dari kayu yang dibentuk menyerupai biola. Sejak abad ke-18, Sasando mengalami perkembangan dan inovasi sehingga menjadi Sasando Biola. Sasando Biola lebih berkembang di Kupang. Sasando Biola memiliki nada diatonis dan memiliki bentuk menyerupai Sasando Gong tetapi bentuk bambu diameternya lebih besar dari Sasando Gong dan jumlah dawainya lebih banyak. Setidaknya terdapat 30,32, dan 36 dawai yang melengkapi alat musik Sasando Biola ini. Berdasarkan bentuknya, Sasando Biola dibedakan menjadi dua, yakni Sasando dengan bentuk ruang resonansinya terbuat dari daun lontar dan Sasando dengan bentuk ruang resonansinya terbuat dari kotak atau peti papan. Namun, Sasando Biola yang terbuat dari kotak tidak mengalami perkembangan signifikan. Hal ini dikarenakan dianggap kurang praktis, seperti pada saat pengeteman nada mengalami kesulitan, sekrup kayu harus diputar dan diketok untuk bisa mendapatkan nada-nada yang pas dan indah. Kemudian, putaran dawai Sasando Biola diganti dengan sekrup besi yang lebih mudah diputar dengan memakai kunci Sasando pada saat pengeteman nada. Sasando Biola memakai daun lontar lebih mengalami perkembangan signifikan dibandingkan Sasando dari kotak, karena Sasando Biola dengan bahan daun lontar lebih terkesan unik dan natural. Maka tidaklah heran, Sasando jenis ini dikenal sebagai Sasando tradisional. Ciri khas dari Sasando Biola ini adalah terdapat hiasan mahkota daun lontar yang berjumlah 7 mahkota di bagian kepala Sasando. Mahkota ini bermula dari Sasando Gong yang mempunyai 7 dawai. Dan alat musik Sasando Biola ini banyak dijumpai di Kupang. 3. Alat Musik Sasando Elektrik Electric Sasando Alat Musik Sasando Elektrik Alat musik Sasando jenis ketiga dikenal dengan sebutan Sasando elektrik. Sasando jenis ini merupakan hasil perkembangan dari Sasando Biola tradisional yang kemudian menjadi Sasando modern. Sasando elektrik ini pertama kali diperkenalkan oleh Arnoldus Edon. Ia membuat perkembangan dari kelemahan yang didapati pada Sasando tradisional yang dimana daun lontar mudah pecah dan pada saat musik hujan sering timbul jamur di atas permukaan daun. Hal ini sehingga mempengaruhi perubahan suara dan ketika dipetik suaranya menjadi semakin mengecil. Sasando jenis elektrik ini diciptakan Arnoldus Edon dengan tidak dilengkapi wadah dari daun lontar atau bahan tradisional lainnya. Hal ini dikarenakan Sasando elektrik tidak lagi membutuhkan ruang resonansi yang berfungsi sebagai wadah penampung suara. Bunyi yang dihasilkan dawai Sasando langsung dapat diperbesar melalui alat pengeras suara. Cara Memainkan Alat Musik Sasando Cara Memainkan Alat Musik Sasando Secara umum alat musik Sasando dimainkan dengan cara dipetik. Sasando biasanya dimainkan menggunakan kedua tangan dari arah yang saling berlawanan. Tangan kanan digunakan untuk memainkan akord, sedangkan tangan kiri digunakan untuk memainkan bass atau melodi. Dalam permainan alat musik Sasando, dibutuhkan teknik dan harmonisasi agar menghasilkan suara yang merdu. Orang yang memainkan Sasando membutuhkan latihan dan keterampilan dalam memetik alat musik jenis ini. Sebab, keterampilan tangan akan berpengaruh pada tempo dan suara yang dihasilkan. Penutup Alat Musik Sasando Demikian penjelasan mengenai alat musik Sasando khas Nusa Tenggara Timur. Semoga dengan menyimak artikel ini tidak hanya menambah wawasan kita, melainkan juga semakin menambah rasa bangga dan turut melestarikan alat musik tradisional milik Indonesia. Alat Musik Sasandosumber referensi
KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat allah swt,atas limpahan rahmat dan hidayah_Nya kepada penulis sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “SENI MUSIK TRADISIONAL “.penulis membuat makalah bertujuan untuk mengetahui berbagai macam alat musik tradisional didaerah dari makalah ini dapat berguna bagi penulis dan seluruh pembaca. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada guru sekolah mata pelajaran ” S E N I ” Bapak MUSTARING, yang telah memberikan bimbingan dan saran yang berharga dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat terlaksana dengan baik. Penulis menyadari dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih mengalami kekurangan baik dari segi isi maupun dari itu ,kami memerlukan kritik dan saran dari bapak dan teman-teman sekalian demi sempurnanya makalah ini supaya dapat menjadi bekal saya dalam berkarya. Sengkang,Oktober 2011 Penulis DAFTAR I S I KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………… 1 DAFTAR I S I ………………………………………………………………………………………. 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………………………………………………………………………………….. 3 B. Tujuan Mengamati Alat Musik Tradisional …………………………………………………… 3 BAB II MUSIK TRADISIONAL A. Sejarah Perkembangan Alat Musik Tradisional …………………………………………….. 4 B. Jenis jenis Alat Musik Tradisional daerah …………………………………………………… 4 C. Perbedaan Alat Musik Tradisional dengan Alat Musik Lainnya ……………………………….. 5 D. Fungsi Alat Musik Tradisional …………………………………………………………………. 5 E. Cara Penyajian Alat Musik Tradisional …………………. 6 F. Peran Alat Musik Tradisional …………………………….. 6 BAB III PENUTUP Kesimpulan ………………………………………………………. 8 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam mempelajari alat musik Tradisional diperlukan hal dan bakat tertentu ataupun dengan cara belajar dengan tekun,kita sebagai manusia tentu kita mempunyai kelebihan - kelebihan tertentu,pada kelebihan yang kita miliki kita tentu ingin akan lebih tingkatkan dan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain tentu kita tertarik,untuk mempelajarinya maka dari itu kita sebagai manusia saling melengkapi atau saling membutuhkan seperti pula alat musik juga saling melengkapi,perpaduan antara alat musik yang satu dengan alat musik yang lain. , contoh bahwa perkembangan music semakin maju,selain itu faktor kemauanlah yang sangat mempengaruhi ketertarikan seseorang terhadap seseorang terhadap alat musik,kemudian faktor penyedian alat musik yang dibutuhkan juga dapat mempengaruhi karena bila mana tidak ada alat musik yang tersedia maka sangat sulitlah seseorang mempelajari cara memainkan suatu alat musik. B. Tujuan Mengamati Alat Musik Tradisional Dalam kehidupan sehari hari kita sering memperhatikan seseorang yang memainkan Alat Musik dan disaat melihat hal tersebut pastilah kita merasa tertarik ,maka dari itulah kita mengamati alat musik dan adapun tujuan kita mengamati alat musik tradisional yaitu untuk mengetahui asal,bentuk,cara memainkan,bunyi dan nilai seninya, maksud dari mengamati mengetahui asalnya berarti kita ingin mengetahui asal/tempat alat musik tersebut,mengetahui bentuknya berarti kita merasa ingin mengetahui model/bentuk alat musik tersebut cara memainkannya berarti rasa ingin tahu terhadap tatanan cara memainkan dan mempertunjukkan alat musik yang kita mainkan. Bunyi artinya kita ingin mengetahui irama bunyi dari alat musik yang kita amat Nilai seninya bermaksud apakah alat musik tersebut memiliki nilai seni yang tinggi atau kurang dan lain-lain. BAB II MUSIK TRADISIONAL A. Sejarah Perkembangan Alat Musik Secara umum sejarah perkembangan musik dapat dibagi 2 yaitu periode • Zaman sebelum Masehi • Zaman sesudah Masehi 1. Zaman sebelum Masehi Zaman Antik Corak dan jenisalat musik pada zaman tidak banyak meninggalkan bukti sejarah sehingga sedikit diketahui musiknya tergolong etis dan religius ,yaitu hanya untuk kepentingan upacara terhadap roh nenek monyang dan para dewa. 2. Zaman sesudah Masehi Zaman Baru Perkembangan musik di zaman ini dibagiatas tiga periode yaitu a Zaman Lamatahun 1 sampai 1000 Musik pada zaman ini umumnya digunakan untuk kepentingan ibadah kerohanian. Dengan menggunakan musik vocal satu suara. b Zaman pertengahan tahun1000 sampai 15000 Pada zamman ini musik sudah mulai memasuki hal-hal yang bersifat keduniawian misalnya lagu dan nyayian. c Zaman Aktual Peiode ini rentetan dari tahun 1500 sampai dengan sekarang yang dapat terbagi 4 yaitu 1 Zaman Batok dan Rokokok 2 Zaman Romantik 3 Zaman seni Modern 4 Zaman Modren B. Jenis jenis Alat Musik Tradisional Daerah Alat musik yang yang ada di indonesia ada berbagai macam tergantung dari ciri khas dari daerah–daerah tertentu ,namun terbentuknya suatu alat musik juga dipengaruhi oleh faktor dari luar baik dari luar daerah ataupun luar negeri semua itu didapatkan dari hasil keragaman budaya didunia. Adapun alat musik yang ada di daerah kabupaten Wajo ini adalah sebagai berikut 1. Kecapi 2. Suling Bambu 3. Genggong 4. Pitu-pitu 5. Ana beccing 6. Gong 7. Padendang 8. Gendang Dari beberapa alat musik yang terdapat di beberapadaerah di Kabupaten Wajo diatas semua terbentuk karena adanya jiwa seni dan berbagai unsur lainya ataupun pengaruh dari luar . C. Perbedaan Alat Musik Tradisional dengan Alat Musik Lainya Dalam kehidupan masyarakat kita sudah pahami berbagai perbedaan antara alat Musik Tradisional dan alat musik lainya. Pada alat musik tradisional sudah memiliki solmisasi dan tangga nada sama seperti musik modern akan tetapi juga memeliki perbedaan ,adapun perbedaan itu seperti pada alat musik tradisional zaman dulu ada yang tidak memiliki tangga nada dan alat yang digunakan juga biasanya didapatkan dari alam ataupun dibuat sendiri dengan menggunakan tehnik-tehnik tertentu. Selain itu alat musik tradisional juga sering digunakan pada acara tertentu Misalnya acara adat atau pesta rakyat dan lain-lain,sedangkan alat musik lainya /modern biasa digunakan pada kegiatan atau acara yang bersifat baru atau sudah modern. D. Fungsi Alat Musik Tradisional Musik tradisional adalah musik rakyat secara turun temurun lahir dan berkembang dari Budaya daerah. 1. Sebagai alat pengiring upacara adat daerah misalnya perkawinan adat bugis Wajo . 2. Sebagai sarana hiburan misalnya Simponi kecapi dan lain-lain. 3. Sebagai sarana pendidikan . Beberapa contoh alat musik tradisional beserta contohnya ,yang ada di Kabupaten wajo antara lain sebagai beikut 1. Kecapi sebagai medai hiburan ,pelajaran dan pertunjukan yang biasa digunakanpad pertunjukan tari 2. Padendang digunakan umtuk memeriahkan acara adat seperti pesta panen 3. Suling sebagai hiburan yang biasanya digunakan untuk mengiringi alat musik lain 4. Pitu-pitu sebagai media hiburan pad permainan layang-layang E. Cara Penyajian Alat Musik Tradisional Alat musik tradisional biasanya dipertunjukkan pada saat ada acara-acara tertentu dan cara penyanjianya setiap alat musik mempunyai nilai-nilai seni yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama dalam hal hiburan dalam hal ini kita dapat mengatakan penyajianya alat musik tradisional itu dapat dilakukan dalam bentuk pertunjukan dalam hal ini menyangkut semua alat musik tradisional. Baik itu bersifat kuno ataupun sudah diperbaharui maka dari itu penyajianya alat musik Tradisional dapat dilakukan denga berbagai memiliki tujuan yang bermanfaat misalnya ada sekelompok orang yang mempetunjukkan suatu kesenian musik yang bersifat lama ataupun baru pastilah anggota dari sekelompok orang tersebut menilai suatu pertunjukan yang sangat baik dan bertujuan menarik perhatian penonton/pendengar. Jadi,sebagai kesimpulan penyajian alat musik tradisional dapat dilakukan dengan cara tertentu. F. Peran Alat Musik Bagi Masyarakat Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia biasa pastilah membuthkan berbagai hiburan diantaranya mendengarkan musik atau alat musik. Maka dari itu bila tidak ada yang namanya alat musik maka apakah yang terjadi pad lingkungan masyarakat !pastilah orang menjadi strees karena hiburan merupakan suatu cara menghilangkan strees dan lain-lain. Menurut pendapat saya sendiri peranan alat musik bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai media hiburan,Pertunjukan dan pendidikan; a. Sebagai hiburan Hal ini berarti kalau musik merupakan salah satu media hiburan yang bermanfaat bagi manusia yang mendengarkanya; b. Sebagai pertunjukan Maksud dari musik sebagai pertunjukan yaitu musik dapat digunakan sebagai suatu hal yang dapat dipertontonkan didepan orang banyak; c. Sebagai pendidikan Artinya musik itu juga dapat dipelajari misalnya asalnya,cara penggunaanya,bunyinya hingga manfaatnya; BAB III P E N U T U P KESIMPULAN Dari berbagai hal diatas kita dapat menentukan kesimpuan dari makalah ini yaitu • Alat musik tradisional itu pada umumnya tidak memiliki tangga nada karena pada zaman dulu belum ada solmisasi hanya pembaharuanlah yang mengakibatkan terbentuknya alat musik alat musik tradisional yang bersifat modern. • Bila kita amati kita hanya bisa menikmati keindahan bunyinya saja,tetapi kita juga bisa mencoba memahami pesan yang terkandung didalamnya,ciri khas,fungsi dan kegunaan,sejarah dan perkembangan tari tersebut serta hubungan musik dalam kehidupan manusia. • Selain itu fungsi dan bentuk alat musik itu berbeda-beda/tidak sama dengan alat musik lainnya baik dari segi bentuk,asal,bunyi hingga cara memainkanya.
Alat Musik Sasando – Apa saja alat musik tradisional yang Grameds ketahui? Nah, Sasando adalah salah satu alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur NTT. Alat musik Sasando ini memiliki sejarah dan nilai-nilai budaya yang perlu Grameds kenali sebagai upaya melestarikan budaya bangsa. Beberapa waktu lalu, Sasando sempat diklaim sebagai alat musik milik negara Sri Lanka. Nah itulah sebabnya Grameds sebagai generasi bangsa wajib mengetahui apa itu Sasando. Simak informasi lengkapnya tentang alat musik tradisional Sasando berikut ini Mengenal Alat Musik SasandoSejarah Lahirnya Alat Musik Sasando1. Cerita 12. Cerita 23. Cerita 34. Cerita 4Bentuk Alat Musik Sasando yang UnikJenis-Jenis Alat Musik Sasandoa. Sasando Gongb. Sasando Biolac. Sasando ElektrikCara Memainkan Alat Musik SasandoBuku Terkait MusikArtikel Terkait Musik Mengenal Alat Musik Sasando Alat musik Sasando lahir dari Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur NTT. Alat musik ini merupakan produk budaya lokal yang sudah terkenal di luar negeri. Sasando adalah alat musik petik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik ini hampir sama dengan kecapi atau harpa pada musik tradisional lainnya. Namun, Sasando memiliki suara yang unik. Sasando biasanya dimainkan dengan kedua tangan dari arah yang berlawanan. Tangan kanan digunakan untuk memainkan akord dan tangan kiri digunakan untuk memainkan bass atau melodi. Bermain Sasando membutuhkan keterampilan dan harmoni untuk menghasilkan suara yang merdu. Mereka yang memainkan Sasando membutuhkan latihan dan keterampilan untuk memainkan alat musik ini. Keterampilan tangan mempengaruhi tempo dan suara sasando. Sasando, sebagai kekayaan budaya Indonesia, memiliki implikasi penting bagi kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari nilai sejarah yang terkandung sebagai bagian penting dari kehidupan bangsa Indonesia. Sasando memiliki suara indah yang menangkap dan mengekspresikan berbagai nuansa dan emosi. Oleh karena itu, di daerah asalnya, sasando digunakan sebagai musik ringan untuk mengekspresikan kesedihan dan keceriaan. Generasi bangsa perlu memahami Sasando dalam kehidupan masyarakat. Selain itu juga perenungan internal sebagai cara untuk memahami abstraksi. Pada tataran fungsional, kehadiran Sasando dalam kehidupan masyarakat dapat dimaknai melalui apa yang disebut nilai intrinsik dan ekstrinsik sebagai bagian dari pemahaman peristiwa akustik musik Sasando itu sendiri. Sasando adalah alat musik petik yang unik karena tali kawat adalah sumber suaranya. Sasando terikat cincin ke resonator pertama dan, sebagai fitur khusus, dilengkapi resonator kedua yang terbuat dari daun lontar yang juga berfungsi sebagai aksesori. Banyak pohon lontar yang tumbuh liar di dalam dan sekitar Timor, Yakni terdiri dari dataran dan perbukitan yang sangat tipis, tetapi jenis pohon lain tidak mudah tumbuh di daerah ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika penduduk setempat sangat bergantung pada pohon lontar selain hasil laut. Ini menumbuhkan apa yang disebut budaya lontar. Hal ini memungkinkan semua bagian tumbuhan lontar digunakan setiap hari. Buah mudanya dimakan, batang pohon digunakan sebagai bahan bangunan, akar digunakan sebagai obat, dan daun digunakan sebagai kerajinan tangan. Contohnya wadah air seperti tempat air yang disebut haik, gayung, topi, sandal, dan atap. Yang lebih istimewa, lontar bisa digunakan untuk resonator serta aksesoris alat musik Sasando. Daun lontar sangat keras dan tahan lama. Sebelum penemuan kertas, daun lontar digunakan untuk memo dan prasasti di negara-negara Asia seperti India, Pakistan, Bangladesh, Jawa dan Bali. Dalam praktiknya, alat musik Sasando memiliki nilai moral, nilai religius,nilai pendidikan, nilai adat istiadat, dan nilai spiritual atau harapan. Itulah sebabnya masyarakat NTT, juga bangsa Indonesia terus melestarikan musik tradisional ini yang memiliki sejarah panjang dari perkembangan zaman. Alat musik Sasando yang juga biasa disebut sasandu suara yang dihasilkan dari getaran adalah hasil inspirasi dan interaksi penemunya dengan alam. Dari legenda yang diceritakan orang Rote, terdapat berbagai versi sejarah asal muasal alat musik ini, seperti berikut ini. 1. Cerita 1 Awal mulanya, konon ketika seorang pemuda bernama Sangguana 1950-an terdampar di perairan Pulau Ndana dan dibawa oleh penduduk ke hadapan Raja di Istana. Selama tinggal di istana ini, bakat seni Sangguana dengan cepat diketahui banyak orang dan sang putri terpesona dengan kemampuannya tersebut. Dia meminta Sangguana untuk membuat alat yang belum pernah ada sebelumnya. Suatu malam, Sanguana bermimpi memainkan alat musik dengan bentuk dan suara yang indah. Terinspirasi oleh mimpi ini, Sangguana menciptakan alat musik yang disebut Sandu artinya “bergetar”. Sambil memainkannya, sang putri bertanya lagu apa yang sedang dimainkan dan Sangguana menjawab “Sari Sandu”. Dia memberikan instrumen ini kepada sang putri. Sang putri kemudian menamakannya Depo Hitu. Artinya, begitu senarnya dipetik, maka tujuh senarnya bergetar Yusuf Nggebu dan diterbitkan secara online pada tahun 2002 di Harian Kompas. 2. Cerita 2 Alat musik Sasando ditemukan oleh dua orang gembala bernama Lumbilang dan Balilang diriwayatkan oleh Jeremiah Parr. Mereka membawa daun lontar saat makan rerumputan dengan domba, dan memetik daun lontar untuk mendapatkan air saat haus di siang hari. Untuk melipat bagian tengah lembaran kuning muda, maka harus melepas lembaran itu. Jika ingin mengendorkannya, mereka akan kencangkan talinya. Jika menariknya terlalu keras, maka akan terdengar nada yang berbeda. Namun karena sering putus, jadi keduanya mencukil lidi-lidi itu. Seiring waktu, ditemukan bahwa jika dikaitkan yang ketat menghasilkan nada tinggi dan sebaliknya jika diperpanjang menghasilkan nada rendah Sasando Rote, 17 Januari 2008. 3. Cerita 3 Alat musik Sasando ini didirikan oleh dua orang sahabat, yakni seorang penggembala dan peminum tuak bernama Lunggi dan Balok Ama Sina. Ketika mereka sedang membuat haik dari daun lontar, ada beberapa benang atau fisik di antara jari-jari daun lontar yang mengeluarkan suara saat dikencangkan. Dari pengalaman inilah dua orang sahabat tersebut mulai memetik tulang daun lontar dan menghancurkannya dengan tongkat kayu untuk membuat alat musik petik yang bisa meniru suara dan nada suara gong. Kedengarannya tidak bagus, jadi mereka menggantinya dengan tongkat bambu, mengupasnya dan menutupinya dengan tongkat kayu Djoni LK Theedens; Sasando dan Orang Rote, Timex, 8 September 2009. 4. Cerita 4 Samuel Ndung, juga dikenal sebagai Sembe Feok 1897-1990 adalah seorang manahelo pakar silsilah dan puisi di Rote Barat mengungkapkan bahwa penemu Sasando adalah seorang pria bernama Pupuk Soroba. Dia melihat seekor laba-laba besar bermain di sarang dan mengeluarkan suara yang indah. Dari situlah dia terinspirasi untuk membuat Alat musik Sasando ini. Berdasarkan pengalamannya, ia ingin membuat perangkat yang bisa menghasilkan suara yang indah. Untuk mewujudkan ide tersebut, Pupuk Soroba pertama-tama mengambil lidi-lidi yang terbuat dari daun lontar mentah, kemudian mencungkilnya untuk disenda dan memetiknya. Ide Soroba berkembang, akhirnya potongan bambu itu ditempelkan pada haik dari daun lontar. Dawai atau senar dibuat dari serat kayu beringin dan kulit musang kering sehingga mengeluarkan suara yang lebih keras. Paul A. Gantung; Sasando, Alat Musik Tradisional Ndao Merah, CV-Verlag. Kairo. Karena pembuatan Sasando terinspirasi dari pekerjaan laba-laba, ada mitos di tengah masyarakat Rote jika ingin bisa bermain Sasando maka harus menangkap laba-laba dan meremasnya di bagian jari-jari dengan minyak kelapa. Itulah sebabnya instrumen yang sudah di pasang di haik akan beresonansi. Sehingga instrumen ini beresonansi dan diberi nama Sandu atau Sanu, yang berarti getaran atau meronta. Selain itu, alat ini disebut sasando karena merupakan pengulangan dari sasando atau sanusanu yang artinya bergetar berulang kali. Sasando masuk dalam jenis Sitar Tabung Bambu jika dilihat dalam bidang organologi ilmu alat musik. Menurut ahli musik, sitar tabung bambu adalah instrumen asli di Asia Tenggara Filipina, Indonesia, dll dan juga ditemukan di Madagaskar sebagai Valiha atau Ali yang dibawa dari Asia Tenggara oleh migrasi penduduk Stanley Sadiebed. The New Grove Dictionary of Musical Instrument. Perkembangan alat musik Sasando terus berlanjut dari waktu ke waktu, Hingga mengalami perubahan pada bentuk senar dan peningkatan kualitas suaranya. Fifik telah berpindah dari tulangan daun lontar, kulit bambu menjadi senar kawat, senar tunggal menjadi senar ganda, akustik ke peralatan elektronik, sasando gong menjadi sasando biola. Perkembangan tersebut adalah bentuk perubahan Sasando sebagai alat musik tradisional yang menggabungkan teknologi modern. Kemampuan dan semangat memodifikasi Sasando mencerminkan kepribadian dan etos kerja orang Rote yang sangat dinamis dalam musik mereka. Bentuk Alat Musik Sasando yang Unik Bentuk alat musik Sasando memang sangat unik, yaitu bentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus. Ada cara untuk memasang dawai di bagian bawah dan atas. Atasan ini digunakan untuk mengencangkan senar. Di tengah bambu terdapat penyangga senda untuk merentangkan senar. Senda ini memiliki fungsi untuk mengatur tangga dan nada atau timbrenya. Tangga dan nada ini dihasilkan dari petikan senar yang berbeda. Wadahnya terbuat dari anyaman daun lontar atau disebut dengan Haik. Fungsi haik ini adalah untuk menciptakan resonansi getaran yang menimbulkan bunyi. Komponen utama sasando adalah bambu, yang berbentuk tabung panjang, di mana pilar atau baji yang disebut dawai akan melingkar dari atas ke bawah, dan senar direntangkan di sekitar bambu. Bagian senda ini akan memberikan nada yang berbeda untuk setiap alat musik gesek yang dipetik. Awalnya, alat penyetel dawai terbuat dari kayu dan harus diputar lalu dipukul untuk mengatur nada yang benar. Sepintas bentuk sasando mirip dengan alat musik petik lainnya, seperti biola, gitar dan kecapi. Namun sasando terbuat dari bambu dan bodinya terbuat dari anyaman lontar. Sehingga memiliki suara melodi yang unik. Sasando merupakan alat musik tradisional yang membutuhkan perawatan rutin. Setiap 5 tahun sekali bagian daun lontarnya perlu diganti dengan yang baru karena sifatnya yang mudah berjamur. Pohon Lontar Ini bernama latin Borassus flabellifer atau dikenal juga dengan istilah pohon siwalan. Sejenis tumbuhan palma palma atau pinang-pinangan yang banyak tumbuh di daerah Jawa Timur. Seperti Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Dalam praktiknya, pohon ini banyak dimanfaatkan penduduk Nusa Tenggara Timur selain sebagai bahan pembuat alat musik Sasando. Tetapi juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti bahan pembuat kipas, tikar, topi, aneka keranjang, kerajinan, dan tenunan pakaian. Jenis-Jenis Alat Musik Sasando Instrumen sasando terdiri dari beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan jumlah senarnya. Ada jenis engkel yang memiliki 28 senar. Ada pula Sasando dobel yang memiliki 56 senar atau 84 senar. Termasuk Sasando Gong, Haik, dan Sasando Biola. Oleh karena itu, suara instrumen sasando sangat berbeda-beda. Hampir semua jenis lagu dapat dimainkan pada instrumen Sasando seperti musik tradisional, pop, slow rock bahkan dangdut. Di setiap daerah, instrumen Sasando berbeda dalam gaya, keterampilan pemain, dan kurangnya sistem penilaian, terutama untuk sasando gong. a. Sasando Gong Sasando Gong yang terkenal di Pulau Rote memiliki nada pentatonis. Biasanya dimainkan dengan irama gong dan dinyanyikan dengan irama khas pulau Rote. Jenis sasando ini adalah 7 senar atau 7 nada dan kemudian berkembang menjadi 11 senar. b. Sasando Biola Sasando Biola lebih berkembang di Kupang. Sasando biola memiliki nada diatonis dan mirip dengan Sasando Gong, tetapi bentuk bambu diameternya lebih besar dari sasando gong dan memiliki lebih banyak senar pada Sasando Biola, sehingga totalnya berjumlah 30 nada, sampai 32 dan 36 string. Sasando Biola memiliki ruang resonansi yang terbuat dari kayu atau multipleks kotak. Mengapa disebut Biola Sasando? Hal ini karena senar awalnya terbuat dari kayu karena nada Sasando meniru nada biola, tetapi harus memainkannya dengan dipukul untuk mendapatkan suara yang benar. Sasando biola kotak ini tidak sepenuhnya berkembang, dan akhirnya Sasando Biola dengan ruang resonator daun lontar, seperti yang sering terlihat dalam 5000 not pada tahun 1992, sehingga menjadi lebih populer. c. Sasando Elektrik Seiring berkembangnya era Sasando Listrik, Sasando juga mulai mengikuti era yang hanya menggunakan bahan-bahan tradisional dan kini tersedia dalam bentuk Sasando Listrik atau Electric. Electric Sasando atau Sasando Listrik diciptakan oleh Arnold Edon. Sasando Elektrik ini termasuk dalam jenis sasando biola yang sedang dikembangkan teknologinya. Sasando tradisional memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan, seperti daun lontar yang rapuh, seringnya muncul jamur di permukaan daun saat musim hujan, dan Sasando yang sangat tenang saat dipetik. Sasando elektrik yang muncul ini tidak menggunakan boks/kotak/peti kayu yang terbuat dari daun kelapa karena tidak memerlukan ruang resonansi untuk berfungsi sebagai wadah. Cara Memainkan Alat Musik Sasando Bagaimana cara memainkan alat musik Sasando? Dari segi bentuk, sasando sebenarnya masih tergolong dalam harpa dan keluarga kecapi. Hal ini dapat dilihat dari cara musik ini dimainkan. Untuk mendapatkan nada, Grameds perlu memainkan senar Sasandonya. Namun demikian, bermain Sasando sangat rumit. Instrumen ini tidak memiliki akor, jadi kamu harus tahu nada mana yang harus dimainkan. Grameds harus memainkan senar sasando dengan kedua tangan. Kunci ditentukan oleh tangan kanan, dan bass atau melodi ditentukan oleh tangan kiri. Untuk membuat nada lain, kamu perlu memainkan senar sasando di kedua arah. Tentu saja, bermain secara profesional membutuhkan waktu yang lama. Gremads perlu banyak latihan dan membiasakan dengan alat musik tradisional ini. Alat musik Sasando sudah jadi kebangaan bangsa Indonesia, sehingga kita perlu melestarikannya, salah satunya dengan belajar cara memainkannya atau mengenal dengan baik tentang musik tradisional tersebut. Jika Grameds ingin lebih mengenal alat musik Sasando dan alat musik tradisional lainnya, maka kamu bisa membaca koleksi bukunya di Sebagai SahabatTanpabatas Gramedia selalu memberikan produk terbaik agar kamu memiliki informasi LebihDenganMembaca. Penulis Lala ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien
- Alat musik tradisional Sasando berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur NTT. Alat musik sasando dimainkan dengan cara dipetik. Tidak hanya cara memainkan alat musiknya, kamu juga bisa mengetahui sejarah, fungsi, bentuk, jenis, dan perkembangan alat musik tradional khas Pulau Rote dalam artikel ini. Dikutip dari KBBI, sasando adalah alat musik petik dari Pulau Rote yang terdiri atas tabung bambu dengan rentangan beberapa dawai yang ditempatkan pada ruang resonansi yang terbuat dari daun lontar. Baca juga Mengenal Peribahasa Pengertian Peribahasa, Jenis Peribahasa, dan Contoh-contohnya Baca juga Mengenal Wawasan Nusantara Pengertian, Hakikat, Asas hingga Tujuannya Sasando Pos Kupang/Muhlis Al Alawi Dikutip dari laman resmi Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur, alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik dengan menggunakan jari ini tidak memiliki chord. Sasando hampir mirip dengan alat musik tradisional lainnya seperti Kecapi atau Harpa. Namun, sasando memiliki bentuk dan suara yang sangat khas. Cara memainkan sasando Meski termasuk alat musik dimainkan dengan cara dipetik, namun sasando memiliki cara yang berbeda dengan alat musik petik lainnya. Sasando biasanya dimainkan menggunakan kedua tangan dengan arah yang berlawanan. Tangan kanan berperan untuk memainkan accord, sedangkan tangan kiri sebagai melodi atau bass. Untuk memainkan Sasando ini tentu tidak mudah, dibutuhkan harmonisasi perasaan dan teknik, sehingga menghasilkan nada yang pas dan merdu. Selain itu keterampilan jari dalam memetik sangat diperlukan. Hampir sama dengan alat musik Harpa, keterampilan dalam memetik dawai sangat mempengaruhi suara apalagi bila memainkan nada tempo cepat maka keterampilan tangan sangat diperlukan.
Alat musik sasando dan alat musik launnya. Foto dok. yang terkenal dengan kekayaan budayanya ini membuat Indonesia menjadi sebuah negara yang unik. Keunikan ini dapat kita ketahui dari banyaknya kebudayaan khas yang ada di tiap daerah di penjuru Indonesia. Salah satu kebudayaan tradisional yang cukup unik adalah alat musik sasando. Berikut ini adalah cara memainkan alat musik sasando lengkap dengan fakta menarik tentang sasando yang perlu Anda Memainkan Alat Musik Sasando dan Fakta menarik Tentang SasandoAlat musik tradisional merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki di Indonesia. Pasalnya, tiap daerah di penjuru Indonesia memiliki berbagai macam alat musik tradisional yang mencirikan daerah tersebut. Salah satu alat musik tradisional yang cukup terkenal di Indonesia adalah adalah alat musik yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur NTT. alat musik ini cukup unik karena memiliki cara bermain yang berbeda daripada alat musik pada umumnya. Meski sekilas Sasando memiliki kemiripan dengan alat musik petik lainnya, namun Sasando ini memiliki keunikan dan ciri khas memainkan alat musik sasando berbeda dari alat musik petik lainnya. Foto dok. ini seperti yang dipaparkan dalam buku berjudul Alat Musik Tradisional Nusantara yang disusun oleh Akhmalul Khuluq 201629 menyebutkan bahwa sasando sekilas memiliki bentuk yang mirip dengan alat musik petik lainnya, seperti gitar, biola dan kecapi. Namun sasando memilki bagian unik yakni bagian utamanya berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu dan di bagian tengah tabung diberi ganjalan melingkar dari atas hingga ke bawah buku berjudul Ayo Mengenal Indonesia Nusa Tenggara yang disusun oleh Taqiyya Putri NS 202048 juga disebutkan bahwa alat musik sasando merupakan siter dari bambu dengan alat resonansi dari daun lontar. Tentunya hal ini membuat sasando menjadi alat musik tradisional yang sasando ini membuat alat musik petik khas Pulau Rote memiliki cara bermain yang berbeda dan sedikit rumit dibandingkan alat musik petik pada umumnya. Cara memainkan alat musik sasando ini dapat dilakukan dengan memetiknya seperti dawai pada harpa akat tetapi sasando dimainkan menggunakan kedua tangan dengan arah berlawanan, tangan kanan berperan memainkan accord sedangkan tangan kiri bertugas sebagai pengatur melodi dan memainkan alat musik sasando dan juga fakta menarik tentang alat musik khas Pulau Rote ini dapat memperluas pengetahuan Anda tentang kesenian tradisional Indonesia yang perlu kita lestarikan hingga akhir hayat kita. DAP
makalah tentang alat musik tradisional sasando